MuslimahNewscom, OPINI — “Di tengah pandemi seperti saat ini, kita perlu kesediaan lebih banyak berkorban lagi, mengorbankan kepentingan pribadi, dan mendahulukan kepentingan masyarakat, serta sesama.” (Orang nomor 1 RI, Pidato peringatan Iduladha 1442 H (19/7/2021)). Demikian kutipan pidato Presiden Jokowi. Sebagaimana diketahui, ini adalah
Salah satu tanda Keterasingan kita terhadap Al Qur’an sebagaimana dikemukakan oleh DR. Majdi Al Hilali dalam buku Gurbhatul Qur’an (2022) adalah mendahulukan buku daripada Al Qur’an. Sehingga menambah keterhalangan kita dari ruh dan pengaruh Al Qur’an. Padahal sejatinya Al Qur’an yang harus lebih dulu dipahami sebagai satu satunya Kitab yang tidak ada
Jakarta- . Surat Luqman ayat 13-14 berisi nasihat-nasihat bagi umat muslim. Ayat 13 surat ini berisi peringatan Luqman kepada anaknya agar tidak mempersekutukan Allah SWT. Sementara untuk surat
Muhammadbin Musa Alu Nashr. Manhaj para nabi maksudnya adalah jalan, metode dan sarana yang ditempuh oleh para Rasul dalam berdakwah kepada Allah. Dakwah kepada Allah adalah kewajiban dan satu keharusan agama. Sejauh dakwah ini sesuai dengan manhaj para rasul termasuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dakwah ini akan di terima
Dịch Vụ Hỗ Trợ Vay Tiền Nhanh 1s. Taman Islam ilustrasi. Tafsir Surat Al-Isra Ayat 16 Peringatan Allah Sebelum Suatu Negeri Dibinasakan JAKARTA - Jika suatu negeri sudah layak untuk dibinasakan karena perbuatan dosa penghuni negeri itu sudah melampaui batas. Maka Alquran mengingatkan orang-orang yang hidup bermewah-mewahan yakni para pemimpin negeri itu agar mentaati Allah SWT, peringatan itu disampaikan untuk memberi mereka kesempatan bertaubat sebelum mereka dibinasakan. Hal ini dijelaskan dalam Surat Al-Isra Ayat 16 dan اَرَدْنَآ اَنْ نُّهْلِكَ قَرْيَةً اَمَرْنَا مُتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيْهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنٰهَا تَدْمِيْرًا Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu agar menaati Allah, tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam negeri itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan hukuman Kami, kemudian Kami binasakan sama sekali negeri itu. QS Al-Isra 16Tafsir Kementerian Agama menerangkan dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa apabila Dia berkehendak untuk membinasakan suatu negeri, maka Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang hidup bermewah-mewah di negeri itu supaya menaati Allah. Maksudnya apabila suatu kaum telah melakukan kemaksiatan dan kejahatan secara merata dan pantas dijatuhi siksaan, maka Allah SWT karena keadilan-Nya, tidak segera menjatuhkan siksaan sebelum memberikan peringatan kepada para pemimpin mereka untuk menghentikan kemaksiatan dan kejahatan kaumnya dan segera kembali taat kepada ajaran tetapi, dari sejarah kita mengetahui orang-orang yang jauh dari hidayah Allah tidak mau mendengarkan peringatan itu, bahkan mereka menjadi pembangkang dan penentang Allah. Allah lalu memusnahkan mereka dari muka bumi dengan berbagai azab, baik berupa bencana alam, maupun bencana-bencana ketentuan Allah yang tak dapat dielakkan. Allah menghancurkan negeri itu sehancur-hancurnya, sehingga tidak ada sedikit pun yang tersisa, baik rumah-rumah maupun harta kekayaan mereka.
Oleh Ustaz Rokhmat S. Labib, TAFSIR AL-QUR’AN – Allah Swt. berfirman, * كِّرْ إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَى * سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى * وَيَتَجَنَّبُهَا الأشْقَى * الَّذِي يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرَى * ثُمَّ لا يَمُوتُ فِيهَا وَلا يَحْيَا * “Oleh sebab itu, sampaikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat. Orang yang takut kepada Allah akan mendapat pelajaran. Orang-orang yang celaka kafir akan menjauhinya. Itulah orang yang akan memasuki api yang besar neraka, kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak pula hidup.” QS al-A’la [87] 9-11 Ayat ini memerintahkan Rasulullah saw. untuk menyampaikan peringatan kepada manusia. Respons mereka pun terbagi menjadi dua yang menerima dan yang menolak. Respons itu pun menentukan nasib mereka. Tafsir Ayat Allah Swt. berfirman, “Fadzakkir in nafa’ati adz-dzikrâ Oleh sebab itu sampaikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat.” Khithâb ayat ini juga ditujukan kepada Rasulullah saw. Menurut az-Zuhaili, kata at-tadzkîr bermakna mengingatkan manusia pada sesuatu yang sebelumnya telah diketahui, lalu dilupakan.[1] Kata ini bisa juga tidak mengingatkan dari perkara yang terlupakan, namun berguna untuk melanggengkan ingatan.[2] Masih menurut az-Zuhaili, yang dimaksud ayat ini adalah menyampaikan peringatan dan nasihat dengan Al-Qur’an.[3] Penjelasan yang sama juga dikemukakan al-Baghawi dan al-Khazin, yang memaknai frasa tersebut, “Nasihatilah dengan Al-Qur’ân.”[4] Imam al-Qurthubi juga berkata, “Nasihatilah kaummu dengan Al-Qur’an, wahai Muhammad.”[5] Asy-Syaukani menafsirkan ayat ini juga dengan pernyataan, “Sampaikanlah nasihat dengan apa yang Kami wahyukan kepada engkau, wahai Muhammad. Bimbinglah mereka kepada kebaikan dan tunjukilah mereka pada syariat-syariat agama.”[6] Perintah tersebut diiringi dengan firman-Nya, “In nafa’ati adz-dzikrâ jika peringatan itu bermanfaat.” Secara lahiriah, ayat ini memberikan pemahaman bahwa seolah-olah peringatan itu hanya diperintahkan apabila dapat memberikan manfaat. Jika tidak, maka peringatan itu tidak perlu diberikan. Pemahaman tersebut tentu tidak benar. Dikatakan al-Jurjani, memberikan peringatan itu wajib sekalipun tidak memberikan manfaat.[7] Kesimpulan tersebut amat tepat mengingat Rasulullah saw. adalah rasul untuk manusia lihat QS Saba’ [34] 28, al-A’raf [7] 158. Objek yang harus diberikan peringatan oleh beliau adalah seluruh manusia. Selain itu, sebelum peringatan diberikan kepada seseorang, tentu belum diketahui apakah peringatan tersebut akan bermanfaat atau tidak. Orang yang diduga menerima justru menolak. Sebaliknya, dikira menolak justru menerima. Oleh karena itu, sebelum peringatan disampaikan, tidak bisa dipastikan respons seseorang. Jika demikian, bagaimana memahami frasa, “in nafa’ati adz-dzikrâ itu? Menurut al-Wahidi ayat ini mengandung makna in naf’at aw lam tanfa’ jika bermanfaat atau tidak bermanfaat.” Hanya saja, frasa terakhir, yakni “aw lam tanfa’ atau tidak bermanfaat” tersebut tidak disebutkan. Penjelasan lainnya, huruf in jika tidak selalu memberikan makna syarat yang meniadakan perkara yang dipersyaratkan ketika syaratnya tidak ada. Ini terdapat dalam beberapa ayat, seperti firman Allah Swt., فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا “Tidaklah mengapa kalian men-qashar shalatmu jika kalian takut diserang orang-orang kafir.” QS al-Nisa’ [4] 101. Meskipun disebutkan “in khiftum jika kamu takut”, salat qashar bagi musafir boleh dilakukan, baik ketika dalam keadaan takut diserang orang-orang kafir maupun tidak. Demikian juga firman QS al-Baqarah [2] yang membolehkan suami merujuk istri yang telah ditalak tiga kali dan sudah dinikahi laki-laki lain. Meskipun disebutkan “in zhanna an yuqîmû hudûdul-Lâh jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah“, perbuatan tersebut boleh dilakukan meski tidak ada dugaan tersebut.[8] Ada pula yang memaknai huruf in tersebut sebagai sebab atas manfaat dari peringatan tersebut. Ini sebagaimana makna in dalam ungkapan “Qad awdhahtu laka in kunta ta’qilu Sungguh aku telah menjelaskan kepada kamu agar kamu paham.” Artinya, yang dimaksud adalah menjadi sebab atas manfaat yang diterima dari peringatan tersebut.[9] Dengan demikian frasa tersebut memberikan makna bahwa peringatan itu diperintahkan agar dapat memberikan manfaat, baik bagi orang yang diberi peringatan maupun yang menyampaikan peringatan itu. Ada pula aspek lain yang dipahami Ibnu Katsir dari ayat ini. Menurut Ibn Katsir, dari ayat ini dapat diambil adab dalam menyebarkan ilmu; bahwa ilmu tidak diberikan kepada orang yang tidak memiliki kelayakan. Ini sebagaimana dikatakan Amirul Mukminin Ali ra, “Tidaklah kamu berbicara dengan suatu kaum tentang sesuatu yang tidak dapat dijangkau akal mereka, kecuali menjadi fitnah bagi sebagian mereka.” Beliau juga berkata “Berbicaralah dengan apa yang mereka ketahui. Apakah kamu menyukai Allah dan Rasul-Nya didustakan?” [10] Ketika Rasulullah saw. diperintahkan untuk menyampaikan peringatan kepada semua orang, kemudian diterangkan tentang orang-orang yang menerima dan menolaknya, serta orang-orang yang mendapatkan manfaat dan yang justru mendapatkan kecelakaan. Allah Swt. berfirman, “Sayadzdzakkaru man yakhsyâ Orang yang takut [kepada Allah] akan mendapat pelajaran.” Menurut al-Asfahani, kata “al-khasy-yâh” berarti khawf takut yang disertai dengan ta’zhîm sikap hormat dan memuliakan. Sikap tersebut kebanyakan didasarkan oleh pengetahuan tentang zat yang ditakuti tersebut. Oleh karena itu, sikap itu dikhususkan kepada ulama dalam firman-Nya إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” QS Fathir [35] 28.[11] Karena “khasy-yah” merupakan ketakutan yang disertai dengan sikap hormat, maka dalam Al-Qur’an sikap itu hanya ditujukan kepada Allah Swt. Lihat QS [51] 33; al-Kahfi [18] 80; al-Baqarah [2] 150; an-Nisa’ [4] 77; al-Ahzab [33] 39; an-Nisa’ [4] 9; dan lain-lain. Itu pula makna yang terkandung dalam ayat ini. Dijelaskan Ibnu Katsir, “man yakhsyâ” dalam ayat ini berarti orang-orang yang takut kepada Allah dan meyakini perjumpaan dengan-Nya.[12] Tak jauh berbeda, al-Qurthubi juga menafsirkan kalimat ini sebagai orang yang bertakwa dan takut kepada Allah.[13] Ibnu Jarir ath-Thabari juga berkata, “Orang yang takut kepada Allah SWT dan hukuman-Nya.”[14] Orang-orang yang takut kepada Allah Swt. itulah yang mengambil peringatan dan nasihat yang diberikan Rasulullah saw. Dalam ayat ini disebutkan, “Sayadzakkaru.” Artinya, “dia akan menerima nasihatmu.”[15] Dikatakan oleh az-Zamakhsyari, orang yang takut kepada Allah dan buruknya akibat itu lalu mempertimbangkan dan memikirkannya. Pertimbangannya itu kemudian membimbing dia untuk mengikuti kebenaran.[16] Atas pilihannya itu mereka mendapatkan as-sa’âdah kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dikatakan oleh al-Biqa’i, “al-khasy-yah” rasa takut itu membawa pelakunya pada setiap kebaikan hingga hatinya merasa nikmat; dibalas dengan surga yang tinggi, dan hidup dengan kehidupan yang baik, tanpa ditimpa kesakitan dan kesusahan, kekal abadi tanpa akhir dan tanpa ujung.[17] Kemudian diberitakan tentang sikap orang yang sebaliknya, “Wa yatajannbuhâ al-asyqâ Orang-orang yang celaka kafir akan menjauhinya.” Jika yang disebutkan sebelumnya mau menerima peringatan dan mengambil nasihat yang disampaikan Rasulullah saw., maka mereka justru menjauhinya. Jika yang sebelumnya takut kepada Allah, maka mereka ini berani kepada Allah. Mereka pun mendapatkan balasan atas tindakan mereka. Dalam ayat ini disebut sebagai “al-asyqâ orang yang paling celaka.” Dikatakan al-Alusi, mereka adalah orang kafir yang terus dan tetap dalam pengingkarannya terhadap Hari Kiamat dan semacamnya. [18] Kata “al-asyqâ” merupakan bentuk at-tafdhîl dari kata asy-syaqiyy orang yang celaka. Mereka dinyatakan sebagai al-asyqâ orang yang paling celaka lantaran menerima azab yang amat besar. Azab tersebut diberitakan dalam ayat selanjutnya, “al-ladzî yashlâ an-nâr al-kubrâ [yaitu] orang yang akan memasuki api yang besar [neraka].” Pengertian “al-kubrâ” di sini adalah al-azhîmah wa al-fazhî’ah yang besar dan mengerikan. Dikatakan demikian karena panasnya lebih besar dan dahsyat daripada api dunia.[19] Menurut al-Hasan, an-nâr al-kubrâ adalah neraka akhirat. Adapun yang sughrâ yang kecil adalah neraka dunia. Sebagian mufasir mengatakan, semua neraka adalah neraka akhirat meskipun bertingkat-tingkat kerasnya. Ada neraka yang lebih besar daripada neraka lainnya. Dikatakan al-Farra’, “al-kubrâ” adalah tingkatan neraka yang paling bawah.[20] Kemudian Allah Swt. berfirman, “Tsuma lâ yamûtu fîhâ wa lâ yahyâ kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak [pula] hidup.” Di dalam neraka itu mereka tidak mati dan tidak hidup. Mereka tidak mati sehingga dapat beristirahat dari azab; juga tidak hidup dengan kehidupan yang memberi dirinya manfaat.[21] Itulah siksa yang diterima oleh orang-orang yang menolak dan menyingkirkan peringatan Allah Swt. Mereka harus menghadapi siksaan yang besar atas tindakan lancang dan durhaka mereka terhadap Penciptanya, Allah Swt. Respons Manusia terhadap Peringatan Terdapat banyak pelajaran yang dapat diambil dari ayat-ayat ini. Pertama perintah untuk menyampaikan peringatan kepada manusia. Perintah ini ditujukan kepada Rasulullah saw. Hal ini dengan jelas disebutkan dalam kalimat, “Fadzakkir berikanlah peringatan.” Menyampaikan peringatan dan nasehat merupakan tugas yang harus diemban Rasulullah saw. dan seluruh Rasul lainnya. Bahkan ini merupakan tugas utama seorang Nabi dan Rasul, termasuk beliau Lihat QS al-Ghasyiyah [88] 21. Patut dicatat, meskipun perintah dalam ayat ini ditujukan kepada Rasulullah saw., perintah tersebut juga berlaku bagi umatnya. Sebab, selama tidak ada dalil yang mengkhususkan khithab itu hanya ditujukan untuk beliau, maka khithab itu berlaku umum. Demikian pula ayat ini. Apalagi sebagaimana dijelaskan para mufasir, pengertian ayat tersebut adalah memberikan peringatan dan nasihat dengan Al-Qur’an, apa yang diwahyukan kepada Rasulullah saw., dan syariat agamanya. Perbuatan tersebut jelas diperintahkan kendati dilakukan dalam beberapa ungkapan dalam Al-Qur’an, seperti berdakwah dan mengajak manusia pada Islam lihat QS an-Nahl [16] 125, Fushilat [41] 33, melakukan amar makruf nahi mungkar lihat QS Ali Imran [3] 110, 114; at-Taubah [9] 71, menyampaikan wasiat kebenaran dan kesabaran kepada manusia QS al-Ashr [103] 30, dan lain-lain. Tentu saja, dalam detail dan fokusnya terdapat perbedaan-perbedaan. Namun, sasaran yang dituju adalah menjadikan manusia terikat dan mengamalkan syariat. Kedua kemungkinan sikap manusia terhadap peringatan yang diberikan. Sikap manusia ada dua kemungkinan 1 menerima dan mengambil peringatan itu sebagai pelajaran; 2 menolak dan menjauhinya. Sikap tersebut bisa terjadi lantaran beliau hanya diberi kewenangan memberikan peringatan, tidak diberi kewenangan untuk memaksa mereka harus menerima peringatan itu Lihat QS Qaf [51] 45. Meskipun tidak dipaksa, seharusnya manusia memilih sikap pertama, yakni menerima peringatan dari Allah Swt. Peringatan itu jelas demi kebaikan manusia ketika di dunia, kehidupannya mendapat limpahan berkah; di akhirat dia dimasukkan ke dalam surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan. Sebaliknya, tidak ada satu pun alasan yang bisa digunakan untuk mendukung pilihan kedua, yakni menolak dan menjauhi peringatan dari Allah Swt. Sebab, siapa pun yang menolak perintah itu hidupnya akan sesat dan ditimpa dengan kesengsaraan. Di akhirat kelak lebih celaka lagi. Siksaan amat dahsyat di “an-nâr al-kubrâ” neraka yang besar akan ditimpakan kepada dirinya. Demikian dahsyatnya sehingga membuat penghuninya tidak bisa hidup dan tidak pula mati. Karena itu, orang yang berakal dan menggunakan akalnya dengan benar niscaya akan memilih sikap yang pertama, yakni menerima peringatan dan nasihat itu Lihat QS al-Baqarah [2] 269; Ali Imran [3] 7. Ayat ini juga mengajari kita bahwa sebaik dan sebenar apa pun sebuah peringatan, dua kemungkinan itu selalu terjadi. Dengan demikian, adanya penolakan dari sebagian manusia terhadap sebuah ide, tidak menandakan bahwa ide itu salah. Tidak pula menunjukkan orang menyampaikannya keliru. Ini juga yang terjadi pada Islam. Tidak ada satu pun agama, pemikiran, dan ideologi yang dapat menandingi Islam. Yang menyampaikan juga manusia pilihan, Rasulullah saw. Meskipun demikian, tetap saja ada manusia yang menolak dan mengingkari, bahkan memusuhi Islam. Realitas ini harus menyadarkan para pengemban dakwah bahwa dakwahnya tidak selalu disambut dengan senyum ramah dan tangan terbuka. Sebaliknya, kadang justru dakwahnya mengundang penolakan dari objek dakwah. Menghadapi realitas tersebut, pengemban dakwah tidak boleh kecil hati, apalagi surut langkah dan berputus asa. Dia harus tetap teguh dan bersabar dalam menyampaikan dakwah. Jangankan manusia biasa, Rasulullah saw. dan para nabi lainnya pun pernah mendapatkan perlakuan serupa. Allah Swt. berfirman, وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا “Sesungguhnya telah didustakan pula para rasul sebelum kamu, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan yang dilakukan terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka.” QS al-An’am [6] 34. Semoga kita selalu menerima peringatan dan mengambil nasihat dari Rasulullah saw. Semoga kita pun bisa meneladani beliau menyampaikan peringatan dan nasihat kepada seluruh manusia dengan risalah yang diturunkan kepada beliau, Islam. Sebaliknya, semoga kita tidak termasuk orang yang menolak peringatan dan mendapatkan ancaman siksa neraka. WalLâh a’lam bi ash-shawâb.[MNews/Rgl] Referensi [1] Az-Zuhaili, Tafsîr al-Munîr, vol. 30 Damaskus Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1998, 194. [2] Al-Ashfahani, Al-Mufradât Gharîb al-Qurân Damaskus Dar al-Qalam, 1992, 328 [3] Az-Zuhaili, Tafsîr al-Munîr, vol. 30, 194. [4] Al-Baghawi, Ma’âlim at-Tanzîl fî Tafsîr al-Qurân, vol. 5 Beirut Dar Ihya’ al-Turats al-Arabi, 1420 H, 241; Al-Khazin, Lubâb at-Tawîl fî Ma’ânî at-Tanzîl, vol. 4 Beirut Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995, 418. [5] Al -Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qurân, vol. 20 Kairo Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964, 20. [6] Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5 Damaskus Dar Ibn Katsir, 1994, 515. [7] Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5, 515. [8] Ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 31 Beirut Dar Ihya al-Turats al-Arabiy, 1420 H, 132-133. [9] Ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 31, 133. [10] Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-Azhîm, vol. 8 Beirut Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1999, 372. [11] Al-Ashfahani, Al-Mufradât Gharîb al-Qurân, 282. [12] Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-Azhîm, vol. 8, 372. [13] Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qurân, vol. 20, 20. [14] Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Tawîl al-Qurân, vol. 24 tt Muassasah al-Risalah, 2000, 372. [15] Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5, 516. [16] Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyâf, vol. 4 Beirut Dar al-Kitab al-Arabi, 1987, 740. [17] Al-Biqa’i, Nazhm ad-Durar, vol. 21 Kairo Dar al-Kitab al-Islami, tt, 399. [18] Al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 15 Beirut Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995, 320. [19] Al-Baghawi, Ma’âlim at-Tanzîl, vol. 5, 242. [20] Ibnu Athiyah, Al-Muharrar al-Wajîz, vol. 5 Beirut Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2003, 470; al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur`ân, vol. 20, 20. [21] Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qurân, vol. 20, 20; lihat juga al-Baghawi, Ma’âlim at-Tanzîl, vol. 5, 242. Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!
Jakarta - Al Muqaddim artinya Yang Maha Mendahulukan, salah satu nama Allah SWT dalam Asmaul Husna. Umat muslim sudah semestinya memahami maknanya agar mampu menerapkan dalam perilaku Al Muqaddim dalam Arab, latin, dan artinyaالْمُقَدِّمُBacaan latin Al-MuqaddimArtinya Yang Maha Mendahulukan, Yang Mendorong, Yang Menempatkan Segala Sesuatu di Tempat yang BenarMenurut Syafi'ie el-Bantanie dalam bukunya yang bertajuk Rahasia Keajaiban Asmaul Husna, secara linguistik akar kata dari taqdim mengandung makna memajukan, mengangkat, atau mendahulukan. Sebab itu, menurut segi bahasa, Al Muqaddim artinya mendahulukan atau berada di dari Asmaul Husna ini adalah Allah SWT sebagai Sang Pencipta mempersiapkan sarana kehidupan terdahulu sebelum menciptakan manusia. Dia mendahulukan petunjuk dan pedoman hidup melalui Rasul utusannya, sebelum memberi tugas kepada manusia untuk menjadi khalifah di dari buku Cerita & Makna Asmaul Husna Untuk Anak yang ditulis oleh Siti Wahyuni dan Arini Nurpadilah, Al Muqaddim dapat diartikan pula sebagai sifat Allah SWT yang mendahulukan segala urusan hambaNya. Urusan-urusan ini didahulukan untuk menjaga hamba dan mengakhirkan para hambaNya saat mereka menemui ajalnya itu, nama dan sifat Allah Al Muqaddim juga mengandung makna Allah mendahulukan orang-orang yang dikehendakiNya di dunia dan di akhirat. Dia mendahulukannya dengan memberikan mereka derajat yang Allah SWT memiliki sifat Al Muaqaddim termaktub dalam QS Fussilat ayat 17 yang menjelaskan Allah mendahulukan peringatan sebelum siksaNya,وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَىٰ عَلَى الْهُدَىٰ فَأَخَذَتْهُمْ صَاعِقَةُ الْعَذَابِ الْهُونِ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَArab-Latin Wa ammā ṡamụdu fa hadaināhum fastaḥabbul-'amā 'alal-hudā fa akhażat-hum ṣā'iqatul-'ażābil-hụni bimā kānụ yaksibụnArtinya "Dan adapun kaum Samud, mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai kebutaan kesesatan daripada petunjuk itu, maka mereka disambar petir sebagai azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan."Sifat Al Muqaddim artinya Yang Maha Mendahulukan juga tertuang dalam QS Al Anbiya ayat 35. Ayat ini sebagai bukti Allah telah mendahulukan peringatan tentang kematian sebelum datangnya kematian نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَArab latin Kullu nafsin żā`iqatul-maụt, wa nablụkum bisy-syarri wal-khairi fitnah, wa ilainā turja'ụnArtinya "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami."Meneladani nama dan sifat Allah Al Muqaddim artinya kita sebagai umat muslim harus mendahulukan perintahNya daripada yang lain. Kita juga dituntut untuk mendahulukan orang lain yang membutuhkan sebelum urusan diri kita dari buku Pendidikan Agama Islam oleh Dewita Pertiwi, berikut beberapa contoh perilaku keteladanan yang mencerminkan Asmaul Husna Al Muqaddim dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari1. Berlomba-lomba untuk lebih dulu dalam berbuat kebaikan2. Mengerjakan sesuatu yang bermanfaat dan meninggalkan perbuatan yang sia-sia3. Tidak menunda-nunda pekerjaan4. Mendahulukan kepentingan umum dibandingkan kepentingan pribadi5. Melaksanakan kewajiban terlebih dahulu sebelum menuntut hak6. Mengerjakan sesuatu yang bermanfaat untuk masa depan7. Tidak mengerjakan perbuatan sia-sia dan merugikan orang dia penjelasan tentang Asmaul Husna Al Muqaddim artinya Maha Mendahulukan beserta contoh perilaku keteladannya. Semoga bisa diterapkan ya, Sahabat Hikmah! Simak Video "Permintaan Maaf Wanita Simpan Al-Qur'an Dekat Sesajen-Akui Tertarik Islam" [GambasVideo 20detik] rah/row
Hai Saputry05 S, ayunda bantu jawab ya Jawaban buat tanya di atas ialah sebagai berikut Al Muqaddim artinya Yang Maha Mendahulukan, salah satu nama Allah SWT kerumahtanggaan Asmaul Husna. Tujuan terbit Asmaul Husna ini yaitu Allah SWT andai Sang Pencipta mempersiapkan sarana semangat terdahulu sebelum menciptakan manusia. Sira mendahulukan petunjuk dan pedoman hidup menerobos Rasul utusannya, sebelum memberi tugas kepada makhluk cak bagi menjadi khalifah di bumi. Selain itu, nama dan sifat Halikuljabbar Al Muqaddim juga mengandung makna Almalik mendahulukan orang-orang yang dikehendakiNya di mayapada dan di akhirat. Dia mendahulukannya dengan memberikan mereka derajat yang hierarki. Bukti Allah SWT mempunyai sifat Al Muaqaddim termaktub dalam QS Fussilat ayat 17 yang menjelaskan Tuhan mengulangulang peringatan sebelum siksaNya, وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَىٰ عَلَى الْهُدَىٰ فَأَخَذَتْهُمْ صَاعِقَةُ الْعَذَابِ الْهُونِ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ Artinya “Dan adapun kaum Samud, mereka telah Kami pasrah wahyu tetapi mereka makin menyukai kebutaan kesesatan daripada petunjuk itu, maka mereka disambar petir sebagai azab yang memburukkan disebabkan apa yang mutakadim mereka kerjakan.” Makara, jawaban bermula soal di atas sudah dipaparkan pada pembahasan. Seharusnya membantu! Source
allah mendahulukan peringatan sebelum memberikan